Ekonomi
9-May-2008 14:12:34 WIB
HATI NURANI
Nasib Pejuang Veteran



Peliput : Erwin Syahputra - Budi Sampurno
Waluyo Adi Susanto - Iwan Agung
Juru Kamera : Dedi Suhardiman
Produser : Widayat S. Noeswa
Tayang : Jum’at, 9 Mei 2008 Pukul 12.30 WIB

Segmen I.

indosiar.com, Jakarta - Inilah kegiatanku sehari - hari. Pekerjaan ini terpaksa aku jalani, demi menghidupi anak dan istriku. Meski usiaku kini 93 tahun, namun aku tidak pernah menyerah, menghadapi kerasnya kehidupan di kota Metropolitan. Ya beruntung, aku terbiasa hidup dengan perjuangan. Jika dulu aku berjuang tanpa kenal kata menyerah, mengusir penjajah, kini aku berjuang demi anak dan istriku.

Pekerjaan ini terpaksa Aku jalani demi menghidupi lima anak dan 10 cucuku. Ya memang keras, dan melelahkan tapi bagaimana lagi, aku harus menjalaninya. Aku mulai berada ditempat ini sejak pukul 4 pagi. Aku membantu para pedagang, mendorong gerobaknya ketika akan melintas rel, yang jalannya menanjak. Atau mengatur kendaraan, yang akan lewat.

Lalu lintas di Jakarta terutama dikawasan Jakarta memang sangat padat, terutama di jam berangkat dan pulang kantor. Di lintasan kereta api seperti ini, kadang orang tidak sabar dan ingin menerobos. Karena itu, ditempat ini sering terjadi kecelakaan, orang, atau mobil yang tertabrak kereta.

Pekerjaan ini memang beresiko, karena itu Aku harus sangat berhati – hati. Namun Aku juga merasa bangga, selain bisa membantu orang, dan menghindari kecelakaan, pekerjaan ini tentu sangat membantu kerja petugas penjaga rel kereta api.

Kehidupan orang kecil saperti kami, memang keras, dan penuh resiko. Jika harus memilih, Aku tentu tidak akan melakukan pekerjaan ini. Tapi harus bagaimana lagi. Aku tidak punya keahlian apa – apa. Dan aku memang tidak bisa diam. Sebagai mantan pejuang, aku merasa tidak enak jika harus berdiam di rumah, tanpa aktivitas apa – apa. Ya... Aku coba melakukannya, meski umurku sudah uzur, dan tenagaku sudah tidak sekuat dulu lagi.

Pekerjaanku ini, membuat Aku banyak bergaul dengan orang - orang kecil, seperti tukang ojek atau anak - anak jalanan. Jika sedang beristirahat, kami sering ngobrol tentang kehidupan kami, dan sulitnya hidup di Jakarta, sambil minum teh atau kopi. Apalagi akhir - akhir ini, beban hidup terasa semakin berat. Semua harga kebutuhan naik. Sementara penghasilan kami tergantung dari belas kasihan orang.

Aku berada ditempat ini hingga jam 4 sore. Terik matahari yang menyengat, adalah sahabat kami sehari – hari. Atau jika sedang musim hujan seperti ini, Aku harus rela berbasah – basah, sambil terus bekerja.

Namun semua itu bukanlah halangan bagiku, karena dari sinilah Aku bisa mengaiz rezeki untuk makan sehari - hari. Sebagai seorang Veteran, Aku sudah terbiasa dengan perjuangan keras, tak kenal lelah. Karena itu, sebagai tanda kebanggaank, Aku selalu memakai topi ini. Topi seorang Veteran perang.

Aku telah menjalani pekerjaan ini sejak lima tahun lalu. Awalnya Aku hanya mencoba membantu orang - orang saat akan melintas di rel kereta api, agar lalu lintas menjadi lancer, dan tidak terjadi kecelakaan. Namun lama – lama, pekerjaan ini menjadi sumber penghidupanku.

Kadang, banyak teman - teman seperjuanganku datang menemuiku, untuk sekedar ngobrol membicarakan anak cucu, atau sekedar bernostalgia. Ya...kami dulu berjuang bersama – sama, mengusir penjajah, dengan satu tekad, demi bangsa dan negara. Kami tidak pernah menuntut apa - apa. Kami bangga pernah berbuat sesuatu buat bangsa ini.

Segmen II

Aku asli orang Betawi. Sama dengan daerah - daerah lain, Betawi memiliki sejarah perjuangan melawan penjajahan. Sebagai anak yang dilahirkan di masa penjajahan Belanda, Aku tidak bisa bersekolah tinggi seperti anak - anak sekarang.

Aku hanya sempat mengenyam pendidikan sekolah rakyat, itupun tidak tamat. Karena itu, aku juga terpanggil untuk ikut berjuang melawan penjajah Belanda, menyumbangkan jiwa dan raga untuk Negara. Aku kemudian bergabung dengan tentara pelajar. Rasanya bangga sekali waktu itu.

Ya... inilah pakaian kebanggaanku, pakaian Veteran perang. Pakaian ini selalu Aku pakai, jika ada pertemuan dengan para Veteran. Ya... saat - saat seperti itulah, kami merasa muda kembali mengingat masa - masa perjuangan dulu. Ada suka dan suka, dan tentu ada rasa bangga.

Namun Aku tidak pernah menuntut lebih dari negara ini. Sebagai seorang Veteran, Aku memang mendapat santunan sebesar 500 ribu perbulan. Ya.. Aku bersyukur, masih mendapat perhatian dari negara, atas perjuangkanku dulu. Meski banyak teman - temanku yang kadang mengeluh, karena merasa tidak mendapatkan perhatian yang memadai dari pemerintah.

Sebagai pejuang, Aku juga mendapatkan bintang gerilya, sebuah penghargaan yang diberikan terhadap seorang Veteran perang. Karena itu, jika kelak Aku meninggal, Aku mendapat hak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Inilah satu - satunya harta yang menjadi kebangganku, yang masih tersisa. Aku tidak pernah berpikir jauh, dan meminta lebih, atas perjuanganku. Aku bangga, telah ikut menyumbangkan tenaga, untuk kemerdekaan bangsa ini.

Kini Aku tinggal menumpang dirumah salah seorang anakku, di kawasan Kramat Jati, Jakarta Timur. Istriku telah meninggal sepuluh tahun lalu. Ya.... kadang memang Aku merasa tidak ada lagi tempat berbagi, setelah istriku meninggalkanku untuk selama – lamanya.

Dulu, Aku pernah memiliki rumah, namun terpaksa Aku jual untuk menghidupi keluargaku. Maklum, Aku tidak kuat membiayai lima anak, apalagi jika harus sekolah tinggi – tinggi. Kemudian Aku mencoba menyewa rumah, di Pasar Minggu, namun karena tidak ada lagi biaya, Aku terpaksa ikut dengan anakku. Pekerjaanku, tidak mengenal libur. Karena itu, jika merasa capek dan lelah, Aku memilih tinggal di rumah bermain dengan cucu - cucuku.

Ya, Aku ingin sekali mereka bisa sekolah tinggi, agar kehidupannya lebih baik kelak. Tidak seperti orang tua dan kakek mereka. Karena itu, Aku berusaha membantu ekonomi anak – anakku, sesuai kemampuanku. Maklum, nasib anak - anakku juga tidak jauh berbeda denganku.

Walaupun usiaku renta, namun aku tidak pernah menyerah dalam menghadapi kehidupan ini. Aku juga tidak pernah meminta belas kasihan, kepada teman – temanku, terutama yang beruntung menjadi pejabat, atau pengusaha. Sebagai orang yang pernah ikut berjuang, Aku kadang prihatin melihat kehidupan kami orang - orang kecil. Meski negara ini sudah 62 tahun merdeka, namun masih banyak rakyat yang hidup susah. Semakin hari beban hidup terasa semakin berat.

Sekolah mahal, harga - harga kebutuhan hidup semakin mahal. Dulu kami berjuang, melawan penjajah, agar bangsa ini bisa mandiri, terbebas dari belenggu penjajah, dan rakyatnya tidak lagi dibodohi oleh bangsa asing. Aku hanya bisa berdoa, mudah - mudahan bangsa ini bisa segera cepat berubah, dan tidak ada lagi rakyat yang hidup dalam kemiskinan. Itulah cita - cita sederhana kami, sebagai mantan pejuang. (Dv/Sup).

Nama:
Email:

More HATI NURANI:
[ more Hati Nurani ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :